Ada kesalahan di dalam gadget ini

Selasa, 31 Mei 2011

Menjadi Bijak


Malas saya benar benar lagi kambuh.....
Bahkan untuk membaca literatur TA yang biasa nya saya lakukan beberapa hari belakangan ini pun malas nya bukan main....

Ya sudah...
Sambil menunggu kesiapan diri untuk menunggu semangat itu datang lagi...
Baik nya menuangkan pikiran saja....

Hmmm apa ya??????

Oh ya anda pernah mendengar kata "Belajarlah untuk Bijak"
Sebenar nya apa itu "bijak" yang sebenar nya....

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ( KBBI )
Bijak adalah : 1 selalu menggunakan akal budinya (pengalaman dan pengetahuannya); arif; tajam pikiran; 2 pandai dan hati-hati (cermat, teliti, dsb) apabila menghadapi kesulitan.

nah itu definisi bijak............

Lalu apakah kita sudah bijak dalam hidup kita???
Kalau itu ditanyakan kepada saya..
Saya akan menjawab..
"Saya belum menjadi bijak tapi akan berusaha untuk menjadi ke arah sana...."

Kalau dilihat dari definisi...
Sulit ya menjadi orang yang bijak????

Namun, sebenar nya tidak sulit sama sekali kok...

Untuk menjadi bijak, kita tidak perlu berpatok pada definisi yang ada..
Kadang,,,,
kita terlalu terpatok dengan teori yang ada untuk menjadi bijak dalam hidup...
Menjadi orang yang bijak sangat mudah kok...
Contoh nya..
Makan teratur 3 kali sehari dan mengatur pola makan yang sehat, itu sudah dikatakan "bijak"
Kenapa???
karena kita telah bijak untuk selalu menjaga kesehatan kita..

Saya jadi teringat ketika membaca sebuah buku saya lupa judul nya..
satu kata yang menarik adalah.....
"Berpikirlah melingkar"

Lalu apa hubungannya antara berpikir melingkar dengan berusaha untuk bijak????
Nah.....
pusing kan...
Saya juga
saya juga pusing menghubungkan nya...
^_^

Tapi...
Menurut saya berpikir melingkar sangat erat hubungannya dengan mencoba belajar bijak..
Karena berpikir melingkar bearti kita memikirkan segala sesuatu, semua aspek, memperhatikan setiap alternatif yang ada baik atau buruk, tapi dengan pola pikir yang sederhana tidak ruwet...

Bijak pun begitu..
dalam bijak dalam menghadapi masalah misalnya..
Kita harus mencoba untuk menyederhanakan masalah itu sendiri terlebih dahulu...
tapi tetap...
memikirkan semua aspek dan alternatif yang ada...........

Kadang kita selalu di doktrin dengan pemikiran yang salah..
bahwa untuk menjadi bijak harus lah mempunyai pengalaman yang cukup untuk sebuah hal supaya ketika ada masalah yang berkenan kita dapat mudah menyelesaikannya..

Benar..
itu memang benar....
Namun tanpa ada pengalaman kita bisa menjadi orang yang baik...
Yang terutama adalah menyerdehanakan masalah itu yang terpenting lebih dahulu..
Bukan bearti menyepelekan masalah..
Tapi berusaha memandang setiap masalah pasti ada jalan keluar nya..

Kadang kita selalu dipusingkan dengan masalah yang berbelit dan sulit mencari jalan keluar nya...
Itu karena kita belum mampu "menyerdehanakan masalah" tersebut

Begini...
dalam mempunyai masalah dengan seseorang...
Dengan kekasih kita misal nya.. ( Ini hanya contoh lho biar mudah dipahami.. ^_^ )
Misal nya kekasih kita ngambek karena kita tidak perhatian atau apa..
Namun kita merasa telah cukup memberi perhatian...
Disini siapa yang salah????
Kita atau kekasih kita??
Ruwet kan....
Namun kalau kita dan kekasih kita dapat menyerdehanakan masalah...
Jalan keluar nya mudah...
Karena apa??
Karena pada inti nya masalah nya hanya salah paham dalam komunikasi saja...
Disinilah perlu menyerdehanakan masalah tersebut..
Karena apa??
Dengan menyerdehanakan masalah kita dan kekasih kita dapat menekan ego kita masing-masing....

Tentu tak hanya kita saja yang menekan ego..
Tapi kekasih kita juga perlu ditekan kan hal tersebut....
Kenapa lagi??
Percuma punya kekasih namun tak bisa menahan ego nya....
Lebih baik cari yang lain....
ya kan...
^.^

Disini saya akan menambah kan 16 cara menjadi bijak yang saya ambil di abihafiz.wordpress.com/2009/03/04/16-tips-menjadi-bijaksana/
Semoga berguna...
^.^
  1. Belajarlah dari pengalaman. Ini mencakup pengalaman positif maupun negatif. Biarlah penderitaan dan kesalahan itu menjadi gurumu, ingatlah bahwa kesalahan itu mengajari kamu hal-hal yang tidak efektif agar kamu menemukan hal-hal efektif. Biarlah penderitaan mengajari kamu kesabaran, belas kasih kepedulian dan kerelaan berbagi dengan sesame. Renungkanlah hal-hal yang terjadi padamu dan hal-hal yang kamu perbuat. Terimalah tanggungjawab atas pilihan-pilihan yang kamu buat dan konsekuensinya.
  2. Kembangkanlah pikiranmu. Belajar tidaklah berakhir pada usia 17 atau 20 atau 30 atau berapapun kamu berhenti sekolah. Belajar adalah seumur hidup. Peliharalah pikiran yang terbuka terhadap informasi baru dan sikap mau diajar. Carilah pengetahuan, ide-ide, kebudayaan-kebudayaan dan beranikanlah dirimu mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi.
  3. Rawatlah tubuhmu. Kamu tahu bahwa sehat itu penting. Makanlah makanan yang bergizi, tidurlah yang cukup dan berolah ragalah secara teratur, jagalah kebersihan tubuhmu dan hindarilah kebiasaan-kebiasaan yang merusak seperti merokok.
  4. Peliharalah rohmu. Batinmu membutuhkan pemeliharaan juga. Berikanlah makan kepada rohmu dengan membaca alqur’an, mempelajari al Qur’an, banyak-banyak berdzikir
  5. Kenalilah dirimu sendiri dan kamu dapat menjadi apa. Ikutilah hobi dan minatmu, tela’ahlah dan kembangkanlah bakatmu. Mengenali dirimu sendiri juga berarti mengakui serta menerima keterbatasan-keterbatasanmu. Kalau kamu tidak suka main sepakbola dan tidak pandai memainkannya, janganlah merasa bersalah kalau tidak bergabung dengan tim sepakbola. Sebaliknya kalau kamu suka main sepak bola dan pandai memainkannya, belajarlah. Mintalah tolong dan berlatihlah.
  6. Yakinlah akan harga dirimu. Janganlah mengandalkan penerimaan orang lain. Kuasamu berasal dari dalam. Janganlah mengandalkan orang lain untuk menggerakkannya, jadilah penggerak diri sendiri.
  7. Carilah dan bangunlah hubungan dengan sesama. Bagaimana kamu berhubungan dengan sesama adalah tergantung kepada bagaimana kamu berhubungan dengan dirimu sendiri. Kalau kamu terima dan kamu hargai dirimu sendiri, akan lebih mudah menerima dan menghargai sesamamu. Kenalilah orang-orang lebuh dekat di rumah, di sekolah, di lingkungan dan di komunitas. Bersedialah belajar dari mereka. Mungkin kamu temukan bahwa orang-orang dalam kehidupanmu sehari-hari, orang tuamu, bibi, atau pamanmu, kakek-nenekmu, tetangga sebelah rumahmu, guru, sahabat terbaikmu, pemimpin kelompok muda-mudimu itu penuh hikmat.
  8. Carilah dan bangunlah hubungan dengan dunia. Seluruh alam menghasilkan music bersama-sama, seperti anggota sebuah orchestra. Orang bijak adalah mereka yang mengikuti irama alam, irama cuaca, hewan dan makhluk-makhluk di dunia. Belajarlah berbagi, menyeimbangkan dan hidup bersama alam. Ini berarti kamu tidak sembarangan menembak burung dengan senapan anginmu yang baru. Kamu hormati hewan dan makhluk hidup lainnya disekelilingmu.
  9. Kembangkanlah intuisimu. Kalau kamu intuitif, kamu dapat menangkap perasaan, kepercayaan, keinginan dan kebutuhan sesamamu. Tidak semua orang itu intuitif secara alami, tetapi kamu bisa berlatih agar lebih intuitif. Salah satu caranya adalah dengan membayangkan bagaimana perasaan orang lain. Tempatkanlah dirimu sebagai mereka, berjalanlah dengan sepatu mereka.
  10. Gunakanlah akal sehatmu. Seringkali, akal sehat itu hanyalah soal berfikir sebelum bertindak-menarik apa yang sudah kamu ketahui tanpa harus berfikir keras. Akal sehat itu tidak canggih, tidak mendalam. Akal sehat mengatakan janganlah kamu berjalan ke depan mobil yang sedang melaju. Akal sehat mengatakan tutuplah jendela ketika turun hujan. Akal sehat mengatakan bahwa kamu sendiri tidak suka dikatai atau diganggu, orang lain pun tidak senang.
  11. Buatlah rencana dan ambillah keputusan berdasarkan keadilan dan kebenaran. Bersikaplah toleran terhadap orang lain dan ide-ide mereka. Cobalah untuk tidak menghakimi mereka. Kumpulkanlah sebanyak mungkin informasi sebelum membentuk pendapat.
  12. Cobalah melihat ‘gambaran besarnya’. Kalau kamu bisa membayangkan seperti teka-teki itu setelah jadi, akan lebih mudah kamu memasangnya. Contoh kamu mengerti bahwa semua orang butuh dikasihi dan diterima. Kamu tidak bisa menjangkau individu-individu di sekelilingmu ; orang dari segala usia, ras, agama, kebudayaan, ukuran, bentuk dan seterusnya. Melihat gambaran besarnya juda berarti kamu lebih siap menghadapi kejutan dan kemunduran. Kamu bisa melihat angin ributnya sebelum awannya muncul.
  13. Bersikaplah fleksibel dan mampu beradaptasi. Ketika kakekmu masih muda, mungkin ia menekuni pekerjaan atau karir yang itu-itu juga seumur hidupnya. Kamu mungkin perlu berganti karir tiga, empat kali seumur hidupmu. Sekarang dan dimasa mendatang, orang yang sukses adalah orang yang berubah, belajar dan bertumbuh. Bersikaplah terbuka terhadap ide-ide baru.
  14. Bersedialah menunda keinginanmu. Kamu perlu menunggu hingga kamu cukup umur sebelum hal-hal tertentu kamu miliki dan kamu perbuat-membeli mobil, pulang larut malam, membeli apartemen dan sebagainya. Anak-anak yang tidak sabaran mendapatkan apa yang mereka inginkan itu mungkin saya mencuri, berhenti sekolah atau minggat. Orang dewasa yang tidak dapat menunda keinginnannya mungkin saja membeli rumah yang melampaui kesanggupan mereka. Kalau kamu bersedia bekerja keras, mambangun keterampilan yang kamu butuhkan dan menantikan saat yang tepat kamu bisa mendapatkan hal-hal baik yang kamu inginkan dan itu adalah bagian dari hikmah.
  15. Beranikanlah diri mengambil resiko atau tampak konyol. Agar menjadi bijaksana, kamu membutuhkan keberanian untuk memandang segalanya dari sudut yang berbeda dan menentang ide-ide yang sudah diterima serta cara-cara mengerjakan segalanya yang sudah terbiasa. Terkadang, orang mungkin saja mengolok-olok kamu. Christoper Columbus tampak konyol di mata bangsa Eropa ketika ia menangtang ide bahwa ia akan jatuh di ujung bumi seandainya ia berlayar terus ke barat.
  16. Memberi dan menerima. Orang bijak mau menerima bantuan sesamanya dan juga mengulurkan tangan membantu sesamanya sementara mereka sama-sama menaiki tangga kehidupan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar