Senin, 14 September 2009

biogas

Energi Biru Dari Kotoran Ternak

Bahan organik dimasukkan ke dalam ruangan tertutup kedap udara (disebut Digester) sehingga bakteri anaerob akan membusukkan bahan organik tersebut yang kemudian menghasilkan gas (disebut Biogas). Biogas yang telah terkumpul di dalam digester selanjutnya dialirkan melalui pipa penyalur gas menuju tabung penyimpan gas atau langsung ke lokasi penggunaannya.
Komposisi gas yang terdapat di dalam Biogas dapat dilihat pada tabel berikut:

Jenis Gas Volume (%)
Methana (CH4) 40 – 70
Karbondioksida (CO2) 30 – 60
Hidrogen (H2) 0 – 1
Hidrogen Sulfida (H2S) 0 – 3

Nilai kalori dari 1 meter kubik Biogas sekitar 6.000 watt jam yang setara dengan setengah liter minyak diesel. Oleh karena itu Biogas sangat cocok digunakan sebagai bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan pengganti minyak tanah, LPG, butana, batubara, maupun bahan-bahan lain yang berasal
dari fosil.
Biogas dapat dipergunakan dengan cara yang sama seperti gas-gas mudah terbakar yang lain. Pembakaran biogas dilakukan dengan mencampurnya dengan sebagian oksigen (O2). Namun demi-
kian, untuk mendapatkan hasil pembakaran yang optimal, perlu dilakukan pra kondisi sebelum Biogas dibakar yaitu melalui proses pemurnian/penyaringan karena Biogas mengandung beberapa
gas lain yang tidak menguntungkan. Sebagai salah satu contoh, kandungan gas Hidrogen Sulfida yang tinggiyang terdapat dalam Biogas jika dicampur dengan Oksigen dengan perbandingan 1:20, maka akan menghasilkan gas yang sangat mudah meledak. Tetapi sejauh ini belum pernah dilapor-
kan terjadinya ledakan pada sistem Biogas sederhana.

Sumber:
Majalah Kampus Genta

Edisi 117, Thn XXXIII /27 Maret 1998
halaman 35-38

Rabu, 09 September 2009

history of KKN

eh udah lama gua enggak nulis nih. Udah banyak unek-unek dan pikiran yang mau gua tuangkan. Mulai darimana gua bercerita ya........
Ah gua cerita tentang kenangan kkn (kuliah kerja nyata), tapi mulai darimana nih gua ceritanyanya ya (bingung nih.......)
Oke gua mulai deh ceritanya
Hari pertama tanggal 13 juli 2009
Inilah hari pertama gua akan memulai petualangan KKN yang gak gua tahu akan gimana hasilnya. Malamnya tanggal 12 juli 2009, (hari apaaan tuh minggu ya) gua udah menyiapkan semuanya mirip orang yang mau ngungsi takut banjir gua bobol semua lemari gua. siapkan baju,celana,celana dalam dll udah siap nungging di tas kain hitam yang dengan

Selasa, 07 Juli 2009

global warming,"Sebuah tanda apa???

Perubahan iklim yang terjadi dewasa ini membuat negara-negara di belahan dunia ini termasuk juga Indonesia sangat rentan terhadap bencana, Kelaparan, kemiskinan dan penyakit.

Kepala Bidang Adaptasi Perubahan Iklim Kementerian Negara Lingkungan Hidup Indonesia, Dadang Hilman, MA mengungkapkan hal itu dalam suatu seminar di Medan, Minggu (21/6).

Mengutip sebuah laporan, ia mengatakan, Indonesia salah satu negara yang rentan terhadap bencana yang terkait dengan perubahan iklim seperti halnya pemanasan global.

Kemungkinan pemanasan global itu akan menimbulkan kekeringan dan curah hujan ekstrim yang pada gilirannya akan menimbulkan resiko bencana iklim yang lebih besar pada berbagai belahan dunia.

"Di Indonesia selama periode 2003-2005 terjadi 1.429 bencana. Sekitar 53,3 persen adalah bencana terkait dengan hidro-meteorologi. Banjir adalah bencana yang sering terjadi atau sebanyak 34 persen dan diikuti bencana longsor sebanyak 16 persen," katanya.

Pada seminar Nasional Lingkungan Hidup dengan tema Pelestarian Lingkungan Dalam Upaya Mengurangi Dampak Pemanasan Global di Universitas Negeri Medan (Unimed) itu, ia mengatakan, pemanasan global ditandai dengan meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi.

Hal tersebut sebagai akibat peristiwa efek rumah kaca yaitu terperangkapnya radiasi matahari yang seharusnya dipancarkan kembali ke angkasa luar namun tertahan oleh lapisan akumulasi Gas Rumah Kaca di atmosfer.

Berbagai tindakan aktif untuk mencegah terjadinya perubahan iklim dan mengurangi dampak pemanasan global dapat dilakukan dengan upaya penurunan emisi GRK.

Selain itu juga telah dilakukan berbagai kebijakan seperti di bidang kehutanan dengan penanggulangan illegal logging, rehabilitasi hutan dan lahan, serta konservasi, restrukturisasi sektor kehutanan, pemberdayaan masyarakat di sekitar hutan, penanggulangan dan pencegahan kebakaran hutan dan sebagainya.

Dalam sebuah laporan yang dikeluarkan Bank Dunia pada 2006, disebutkan bahwa kerugian global akibat perubahan iklim diperkirakan akan mencapai 4,3 triliun dolar.

"Kerugian ini akan menjadi tanggungan negara-negara berkembang dan miskin yang relatif memiliki keterbatasan adaptif akibat keterbatasan modal dan teknologi," katanya.

6000 beasiswa dari pemerintah

Sebuah terobosan dilakukan oleh pemerintahan SBY di akhir masa kepimpinannya, kali ini di bidang pendidikan pemerintah akan memberikan 6000 beasiswa untuk semua jenjang pendidikan.
Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo mengatakan, pemerintah setiap tahun rata-rata menyediakan anggaran untuk program beasiswa bagi 6.000 orang, terdiri atas 4.000 orang di dalam negeri dan 2.000 orang di luar negeri.

"Kuota beasiswa sebanyak itu disediakan untuk para dosen, baik yang mengajar di universitas swasta, maupun negeri, silakan berebut dengan sehat untuk mendapat kesempatan beasiswa itu," kata Bambang Sudibyo, Senin (29/6) di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Solo.

Saat ini, jumlah mahasiswa di Indonesia mencapai sekitar 4,5 juta lebih. Sebanyak 400.000 orang di antaranya belajar di perguruan tinggi Muhammadiyah, dan jumlah tersebut terhitung paling banyak.

"Untuk itu kalau bantuan pendidikan yang paling banyak diraih Muhammadiyah, bukan karena Mendiknasnya dari Muhammadiyah, tetapi semua mendapat sesuai porsinya masing-masing," katanya.
Sumber:www.kompas.com

Indonesia rentan dampak global warming

Perubahan iklim global yang terjadi dewasa ini membuat negara-negara di belahan dunia ini termasuk Indonesia rentan terhadap bencana. Demikian dikatakan pengamat lingkungan di Papua, Yunus Paelo, di Jayapura.

Yunus yang juga seorang pengajar di Stiper Jayapura, menjelaskan, kemungkinan pemanasan global itu akan menimbulkan kekeringan, kelaparan, dan curah hujan ekstrem yang pada gilirannya akan menimbulkan risiko bencana.

Ia mengungkapkan, selama periode 2003-2005 di Indonesia telah terjadi 1.429 bencana. Sekitar 53,3 persen adalah bencana terkait dengan hidro-meteorologi, yakni banjir.

Banjir adalah bencana yang sering terjadi atau sebanyak 34 persen dan diikuti bencana longsor 16 persen.

"Pemanasan global ditandai dengan meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi, sebagai akibat peristiwa efek rumah kaca, yaitu terperangkapnya radiasi matahari yang seharusnya dipancarkan kembali ke angkasa luar, tetapi tertahan oleh lapisan akumulasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer," ungkap Yunus.

Ditambahkannya, tindakan aktif yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya perubahan iklim dan mengurangi dampak pemanasan global yakni dengan dilakukannya upaya penurunan emisi GRK.

"Juga telah dilakukan berbagai kebijakan seperti di bidang kehutanan dengan rehabilitasi hutan dan lahan, serta konservasi, penanggulangan illegal loging, restrukturisasi sektor kehutanan, pemberdayaan masyarakat di sekitar hutan, penanggulangan dan pencegahan kebakaran hutan, reboisasi sekitar daerah resapan air, dan sebagainya," tukas Yunus.
Sumber:www.kompas.com